Sabtu, 02 Juni 2012

Become my bride ...please....(ke-1)...!!!!


Dewi-ku …teratai-ku…jantung hatiku…
Aku hendak bercerita, kau dengarkanlah. Dahulu kala sebelum Shakespeare menuliskan romeo dan Juliet yang memilkukan hati itu, terteralah sebuah nama dengan wajahnya yang cantik, rambutnya hitam berombak. Karena hitam rambutnya ini orang menamai gadis cantik itu “Laila”. Seorang pemuda jatuh cinta kepadanya, hingga ia menjadi seperti orang gila, dinamai-lah ia “Majnun”.
Di depanku ada seorang Laila di jaman yang lain, tapi tak ada Majnun yang hampir gila yang ada hanya aku.

Oh … Laila-ku….
Pada zaman Kertanegara hiduplah seorang mpu terkemuka di Kediri. Mpu itu bernama Parwa. Anaknya cantik menawan menggemparkan Kediri. Tunggul Ametung datang menculiknya untuk dijadikan prameswari. Seorang pemuda dengan segala kecerdikannya menumbangkan kekuasaan Tunggul Ametung, dan merebut gadis cantik menawan itu.
Si Dedes gadis cantik jelita anak mpu Parwa berpindah tangan menjadi prameswari dari Ken Arok.
Tapi di sini ada gadis secantik Dedes. Tak ada Tunggul Ametung, tak ada Arok. Hanya ada aku seorang.
Oh…Dedes-ku….

Bah….Surapati pandai merayu….!
…….
Badanku gemetar ……!
Mampukah hati ini mengatakan …
“Mbak…become my bride …please…!”
Manusia itu tak ada yang mau keluar dari lingkaran keamanan dan kenyamanannya. Freud men-teorikan itu dengan panjang lebar. Seorang lelaki ingin punya istri secantik Laila, semanis Dedes, Seanggun Woro Sembodro. Begitu sebaliknya si mbak ingin punya suami secakep Raden Mas Arjuna, segantheng Lesmana, sebijak Gunawan Wibisono.
Maka orang pun berpacaran untuk memastikan istrinya secantik sembodro, suaminya segantheng Arjuno. Bagi yang berpacar-pacaran itu layak-lah rayu cumbu sebagai daku tulis di atas. Hadits telah kau bacai, kau bisa menilai sendiri perihal hukum syar’i tentang pacaran. Aku tak hendak campur tangan urusanmu kawan.  Setiap orang punya pengalaman hidupnya masing-masing.

Kembali badanku gemetar…!
Bagaimana jika yang akan kutemui seorang wanita yang seperti limbuk. Memang kenapa ? Bukankah Suropati ini lebih mirip petruk ? Bukankah limbuk itu yang paling pantes buat si petruk ?
Ya Rahman hendak kau kemanakan daku ?
Kemana pun itu terserahlah kepadaMu…asal Kau tidak marah kepadaku, asal Kau ridho kepadaku.

Malam ini ingin aku hafalkan sebuah kalimat. Seperti para Amtenaar jaman belanda yang menghafalkan kalimat pidatonya yang berbahasa belanda di depan para atasannya.
“Become my bride …please…! “
“Become my bride …please…!”
Ah … Surapati lupa akan beberapa pengalamannya sebelum ini. Ingat itu Surapati pun bersiap menghadasi situasi terburuk. Mudah-mudahan tidak kaget. Nek seorang Sembodro menolak si Petruk, lha bukannya itu wajar. Kemungkinan itu harus diterima olehku dengna selapangnya hati.

Hatiku gemetar lagi…
Ingin kufahalkan kalimat itu ….
“Become my bride …please…! “
Bunda merestui-ku….
“Become my bride …please…!
“Become my bride…

Terlintas di pikiranku tentang limbukan yang ditulis Kuntowijoyo, tapi badanku gemetar …. Pikiranku kacau….
“Mbak…become my bride …please…! “


Sabtu, 02 Juni 2012
Jl. Jogya – Solo, Prambanan , Klaten, Jawa Tengah
Surapati


Minggu, 27 Mei 2012

Sodara putus asa datang bertamu....


Sebentar lagi aku akan pulang, suatu hal yang harusnya kurasai kebahagiaan. Justeru sebaliknya kesedihan tergambar menyambutku di rumah itu. Yang orang katakan sebagai rumahku, tempat pendidikan-ku yang paling sakral.
Seolah-olah sodara putus asa hendak mengetuk pintu hatiku
“Aku ingin menginap di hatimu ..”
Ia berkata kepadaku.
Sodara aku bukan orang yang cocok untuk kau datangi, pergilah. Dan ia pun pergi juga pada akhirnya.
Berulangkali ia mencoba begitu.
Suatu kali aku pun merasa tak tega menolaknya terus-terusan untuk bertamu. Aku pun mempersilahkannya. Suatu waktu ia berkata lagi kepadaku :
“Saudara jika kau menolak-ku terus untuk bertamu, kepada orang macam apa aku harus datang dan menginap di hatinya … dimana aku akan tinggal ? “
'Baik-lah kau boleh tinggal, kau boleh menginap di hatiku. Layaknya tamu-tamu yang biasanya tidaklah baik jika kau bermalam lebih dari tiga hari. Kau mengerti ?'
Sodara putus asa itu akhirnya mengangguk-angguk saja.

Sampai tiba waktu yang aku janjikan itu, 3 hari pun telah berlalu. Tapi sodara putus asa itu tak juga kunjung berpamitan kepadaku.
“Ini sudah lebih dari tiga hari, kenapa kau tak juga pergi”. Kumulai percakapan pagi itu. Suatu pagi yang membuat tulisan ini sampai kau baca. Seperti yang kuduga, ia hanya diam saja memang inilah rencananya sedari awal, ia ingin menghancurkan diriku. Maka aku pun berkata lagi kepadanya, kira-kira begini :
“Bukankah sudah kukatakan aku ini bukan orang yang tepat untuk-mu ? Banyak ilmu tentang perikehidupan yang sudah aku baca. Kadang kala malah perikehidupan yang belum aku saksikan sebelumnya di alam nyata.
Memang saat menyaksikan mereka yang turut menurunkan sifat genetisnya kepadaku ini, ya mereka berdua itu. Jika menyaksikan keduanya harus bercek-cok setiap hari, suasanya rumah menjadi nir kasih sayang. Keharmonisan itu seperti menguap bersama panasnya cahya matari, terbang tersapu hembusan sang bayu. Nenek-ku yang juga tak mampu berbuat banyak hanya terus menangis meratapi ibu-ku anaknya yang tinggal satu-satunya. Karena tekanan batin yang tak tertahankan ia menjadi bingung, bahkan untuk ke kamar mandi saja sudah tak tahu jalan. Padahal kamar mandi itu ada di depannya persis, 50 meter kira-kira. Semua itu tak lain hanya memberikan beban tambahan pada ibuku. Juga aku tak bisa berbuat apa-apa. Pernah suatu kali adik-ku hendak memukul bapak-ku. Ia tak tahan melihat ibunya terus-terusan menangis di depannya.
“Pukulah... aku tak akan melawan.” Demikian kata bapak-ku, dan aku pun menahan adik-ku, bagaimanapun dia adalah bapak kami.

Kesedihan dan kekecewaan itu memang harus di rasai, tak lengkap menjadi seorang manusia jika belum merasakannya. Di dunia ini ada banyak keluarga, yang merasakan perikehidupan yang berbeda. Yang kualami ini hanyalah hal remeh, yang tak ada artinya dibandingkan dengan yang lain. Kesedihan yang berkelanjutan itu tidak-lah perlu.
Aku terus berdoa :
“Ya Alloh, berilah saya pahala atas segala musibah yang menimpaku dan gantilah ia dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”

Pukulan psikologis di hatiku bertumpuk-tumpuk. Bukan berarti aku menginjinkan kau(sodara putus asa) untuk boleh menginap di hatiku. Biarlah kesabaran saja yang menghiasinya. Tolstoy menceritakan kepadaku tentang nasib keluaga yang jauh lebih buruk lagi, apalagi Hugo, Zola, dan Montinggo Busye.
Yang kualami ini tak sebanding dengan apa yang dialami Pramodya. Orang boleh mengatai-nya seorang komunis, seorang yang subversif. Tapi ia tetap menjadi idolaku. Aku sangat mengaguminya. Meski ia di boikot di negri-nya sendiri, sebagai tahanan politik. Ia masih bisa hidup dengan menulis.
Pernah ia mengaku, mau bagaimana lagi aku terpaksa menjadikan menulis sebagai semata-mata untuk mendapatkan uang. Itu kuakui tapi bukan berarti tanpa tujuan lain.

Melalui menulis orang bisa menjadi pembunuh. Nah inilah juga yang menjadi cita-cita-ku. Aku ingin menjadi pembunuh. Pembunuh kebiadaban, pembunuh kesewenang-wenangan. Pedang-pedang tulisan akan mampu melakukan itu dengan ketajamannya.
Ada satu lagi yang mungkin juga sama tapi berbeda kubu. Aku ingin membunuh kekafiran. Sampai Alloh disembah sendirian saja. Dan tiada sekutu bagiNya.

Maka sekarang pilihlah oleh sodara (sodara putus asa), kau mau pergi sekarang juga, atau kau kubunuh....! Biarlah hatiku sebagai dulu, biar kesabaran yang bersemayam di dalamnya.
Apa keputusanmu ? “

Senin, 28 Mei 2012
GSI Blok B.5, No. 10
Surapati

Kamis, 24 Mei 2012

Mr. Nggamping


Suatu tatanan masyarakat ya harus disertai dengan pangkat-pangkatnya. Ada yang jadi RT, RW, Lurah, Bupati terus sampai presiden. Pangkat-pangkat itu bukan sembarangan saja disusun. Ha..misalnya saja kalo sersan harus hormat pada letnan, letnan harus hormat pada mayor, mayor harus hormat pada kolonel, begitu seterusnya. Dengan bantuan si pangkat, yang empunya pangkat itu berhak memerintah. Punya kekuatan dan otoritas. Opo ora hebat ?

Goat family itu hanyalah prajurit – prajurit rendahan yang harus mengikuti instruksi perintah dari Sersan Mayor yang ada 3, jumlahnya. Sersan Mayor 1 begitu expert, sangat kalem menghadapi prahara yang muncul dari mesin-mesin tua itu. Pamornya begitu mendalam panggil saja Mr. Slow. Sersan Mayor 2 sangat jenius, agresif meski baru tapi bisa belajar cepat. Maka kita namai Mr. Fast. Sersan Mayor 3 cukup low profile saja. Namanya Mr. J.
Mungkin nanti ke depan aku juga akan banyak bercerita tentang 3 Sersan Mayor kami itu.

Nah baik kami maupun ketiga sersan Mayor itu harus juga mengikut pada pertimbangan sang kolonel. Kolonel dimana saja berhak memerintahkan, bahkan jika perintah itu tanpa alasan, dengan sebuah kata yang klasik....
“Pokoknya ….
“Pokoknya....
“Pokoknya...
Tentu saja dia berhak. Wong berkuasa kok. Dan kami juga wajib melaksanakan instruksi, wong kewajiban je. Ning kolonel kami tidak begitu. Kolonel kami tidak peodal dalam memerintah kami.
Meski dia berhak memarahi, meski diterka aneka pressure dari jenjang atas-atasnya. Beliau tetap kalem, slow. Seolah – olah pesan yang tak kentara itu berbunyi :
“Aku percaya pada kalian, itu ada tugas ini, ini dan ini … terserah cara kalian, yang penting beres”.
Goat family cukup tanggap ing sasmita. Mak Sreet ...sreet...sreet...tugas pun dikerjakan.

Kolonel kami yang sangat wise alias bijaksana itu bernama Mr. Nggamping. Wong katanya kalo tidak salah berasal dari Nggamping di Ngayogyakarto sana lho. Seorang sosok yang lembah manah ini, dalam memerintah pun sangat mengajeni prajurit-prajurit sebagai kami ini. Kadang kala masukan dari kami pun diterimanya, atau meski tak masuk akal tak dicelanya.
Banyak sekali cara orang memerintah, dan itu sah-sah saja wong kan memang berhak. Ning ada perintah yang memuliakan manusia istilahnya mengajeni manungso, dan ada yang memerintah versi kolonial terhadap bangsa jajahan.
“Ambilkan sample ini ...
“ROV X gak mau nutup ...ayo didekatin segera....
“Master batch belum diisi ...hayo buruan tinggal sekian jam lagi
Nah kesemua-nya itu yang menurutku cara memrintah ala kolonial. Ya tidak apa – apa , tiada yang salah, alias sah-sah saja. Wong berhak je, wong berkuasa je. Ning....ning...ning....

Yang membuatku kagum dari Mr. Nggamping ini, meski dia juga berhak, meski dia juga berkuasa. Kalau memerintah dia itu sangat halus....
“Yo...kawan-kawan, minta tolong extruder segera diprepare....
Rasanya kok lain, kok lebih mak nyes dihati. Kaum wong cilik sebagai kami ini serasa dihargai begitu lho, ha masih pakai kata tolong” segala lho.
“Ada yang bisa ke extruder, minta tolong pressure suction Gear Pump naik ...segera...segera...
'Yes...mister....!'

Serdang, Kamis 24 Mei 2012
Surapati

Rabu, 23 Mei 2012

tentang safar dan jamak... untuk pak bos


: Ketahuilah oleh kita bersama bahwasanya Alloh ta'ala telah berfirman
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا ﴿١٠١﴾
(101) Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Ibnu Katsir menambahkan beberapa hadits dalam kitab tafsirnya :
1. Al Bukhari meriwayatkan dari Haritsah bin Wahab, dia bekata
“Rasululloh shalat bersama kami di Mina sebanyak dua rakaat, padahal dalam siatuasi aman.”

Al Bukhari meriwayatkan dari Abdulloh bin Umar, dia berkata,
“Kami pernah shalat dua rakaat bersama Nabi Saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Tetapi ketika Utsman baru menjabat kepala pemerintahan dia shalat secara sempurna (tidak diqashar).”
(Ibnu katsir mengira, perbuatan Utsman itu beralasan karena dia menikah di Mina dan dia mengganggap dirinya akan menetap di sana sehingga dia menyempurnakan shalatnya).

2. Dalam hadits Aisyah :
“Shalat itu difardhukan dua rakaat-dua rakaat , baik ketika bepergian maupun tidak. Jumlah dua rakaat itu tetap dalam shalat perjalanan, dan ditambah dua rakaat lagi pada shalat tidak sedang bepergian”.
(Hal ini menunjukkan bahwa shalat dua rakaat dalam perjalanan merupakan 'azimah, bukan rukshah. Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat qashar merupakan sunah muakkad).

3. Abu Bakar bin Abi Syaibah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata :
“Kami shalat dua rakaat – dua rakaat bersama Rasululloh di tempat antara Mekah dan Madinah, padahal kami merasa aman dan tidak merasa takut”.

4. Al Bukhari meriwayatkan dari Yahya bin Ishak dari Anas, dia berkata
“Kami pergi dari Madinah ke Mekah bersama Rasululloh Saw. Beliau shalat dua rakaat-dua rakaat hingga pulang ke Madinah. Saya bertanya, “Berapa hari engkau tinggal di Mekah ? ' Beliau menjawab “kami tinggal selama sepuluh hari.”

5. Dari Umar ra. Dia berkata :
“Shalat dalam perjalanan dua rakaat, shalat dhuha dua rakaat, shalat Idul Fitri dua rakaat, shalat Jum'at dua rakaat sebagai shalat sempurna tanpa qashar. Demikianlah disampaikan melalui lisan Muhammad Saw”.

6. An Nasa'i dan Ayub bin Aid meriwayatkan dari Bakir bin Akhnas, dari Mujahid, dan dari Abdulloh bin Abbas, dia berkata
“Alloh ta'ala mewajibkan shalat melalui lisan nabi kamu, yaitu Muhammad saw, demikian : Empat rakaat ketika berada di daerah sendiri, dua rakaat ketika bepergian, dan satu rakaat ketika ketakutan (khauf). …..”

Di dalam shahih Bukhari, beliau menyusun bab KITAB MEN-QASHAR SHALAT :
Dari bab itu pada sub bab nomer 4, beliau menjelaskan :

Biasanya Ibnu Umar dan Ibnu Abbas Ra meringkas shalat serta tidak berpuasa pada jarak empat barid, yaitu sama dengan enam belas farshakh.
1 mil = 1680 m, 1 farshakh = 3 mil dan 1 barid = 4 farshakh.

Ibnu Hajar menjelaskan hadits yang disusun oleh Bukhari itu :
Dengan penjelasan yang sangat beragam, artinya terjadi beberapa perbedaan pendapat dari para ulama masalah jarak safar yang diperbolehkan meng-qasar.
Diantaranya :
Ats Tsauri berkata “ Aku mendengar Jabalah bin Suhaim, bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata : “Kalau aku keluar dari Madinah sejauh satu mil, maka aku meringkas shalat”.

Masih di Bab yang sama, pada sub bab kelima, Iman Bukhari meriwayatkan :

Ali bin Abi Thalib Ra keluar lalu meringkas shalat, sementara ia masih melihat rumah-rumah. Ketika kembali dikatakan kepadanya, ini Kufah. Dia berkata, “Tidak, hingga kita memasukinya”.

Dari Anas bin Malik RA dia berkata, “Aku shalat Zhuhur bersama Nabi Saw di Madinah sebanyak empat rakaat dan di Dzul Hulaifah sebanyak dua rakaat.

Ibnu hajar menjelaskan hadits ini bahwa :
Hadits ini dijadikan dalil bolehnya meringkas shalat ketika mengadakan perjalanan yang singkat, sebab jarak antara Madinah dan Dzul Hulaifah adalah enam mil.

Penting :
Di dalam beribadah harus merujuk pada dalil yaitu dari al qur'an atau hadits yang shahih, tak berlaku adat istiadat, tak berlaku logika atau pemikiran jika menyalahi dasar. Segala yang ada dasarnya dari Al Qur'an atau Hadits yang shahih. Maka itulah kebenaran.
Jika yang diamalkan ada dasarnya maka dia boleh, maka dia menjadi benar. Yang penting itu adalah dasarnya. Jika terjadi perbedaan dalam suatu bentuk peribadahan dan dari masing-masing ada dasar hadits yang shahih atau dari Al Qur'an berarti sama-sama benar. Tak perlu bingung, tak perlu saling menyalahkan. Dan perlu diketahui bahwa permasalahan shalat adalah masuk dalam kategori fikih. Bukan masalah aqidah yang harus saklek sama tak boleh diganggu gugat.

Yang salah adalah mereka yang menyalahkan tanpa dalil, mereka yang berbuat tanpa dalil.
Demi Alloh..... mereka itu batil.
Disinilah pentingnya mencari ilmu, agar kita melek, akan dasar. Agar kita tahu dasar-dasar dalam beragama.


JAMA'.
Menjama' shalat adalah mengabungkan antara dua shalat (Dhuhur dan Ashar atau Maghrib dan 'Isya') dan dikerjakan dalam waktu salah satunya. Boleh seseorang melakukan jama'taqdim dan jama'ta'khir.[19]
Jama' taqdim adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat pertama, yaitu; Dhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Dhuhur, Maghrib dan 'Isya' dikerjakan dalam waktu Maghrib. Jama' taqdim harus dilakukan secara berurutan sebagaimana urutan shalat dan tidak boleh terbalik.
Adapun jama' ta'khir adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat kedua, yaitu; Dhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Ashar, Maghrib dan 'Isya'dikerjakan dalam waktu, Isya', Jama' ta'khir boleh dilakukan secara berurutan dan boleh pula tidak berurutan akan tetapi yang afdhal adalah dilakukan secara berurutan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahuhu alaihi wa'ala alihi wasallam.[20]
Menjama' shalat boleh dilakukan oleh siapa saja yang memerlukannya - baik musafir atau bukan- dan tidak boleh dilakukan terus menerus tanpa udzur, jadi dilakukan ketika diperlukan saja.[21]
Termasuk udzur yang membolehkan seseorang untuk menjama' shalatnya dalah musafir ketika masih dalan perjalanan dan belum sampai di tempat tujuan[22] , turunnya hujan [23] , dan orang sakit.[24]

Berkata Imam Nawawi rahimahullah:Sebagian imam (ulama) berpendapat bahwa seorang yang mukim boleh menjama' shalatnya apabila di perlukan asalkan tidak di jadikan sebagai kebiasaan."[25]
Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam menjama antara dhuhur dengan ashar dan antara maghrib dengan isya' di Madinah tanpa sebab takut dan safar (dalam riwayat lain; tanpa sebab takut dan hujan). Ketika ditanyakan hal itu kepada Ibnu Abbas radhiallahu anhuma beliau menjawab: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam tidak ingin memberatkan ummatnya.[26]

[19]. Lihat Fiqhus Sunnah 1/313-317.
[20]. Lihat Fatawa Muhimmah, Syaikh Bin Baz 93-94, Kitab As-Shalah, Prof.Dr. Abdullah Ath-Thayyar 177.
[21]. Lihat Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/308-310 dan Fiqhus Sunnah 1/316-317.
[22]. HR. Bukhari dan Muslim
[23]. HR. Muslim, Inbu Majah dll.
[24]. Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/310, Al-Wajiz, Abdul Adhim bin Badawi Al-Khalafi 139-141, Fiqhus Sunnah 1/313-317

[25]. Lihat syarh Muslim, imam Nawawi 5/219 dan Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz 141.
[26]. HR. Muslim dll. Lihat Sahihul Jami¡¦ 1070.

Kamis, 17 Mei 2012

Goat Family....


Berhubung kambing itu bahasa inggrisnya goat. Biar agak keren sedikit “keluarga pekerja kelas kambing” yang berjumlah sepuluh orang itu, termasuk saya diganti saja menjadi “Goat Family”. Biar ringkes, gampang disebut.
Apa tidak keren …. hiak...hiak..hiak.
Yang sepuluh itu adalah brother ind, brother erbe, brother fahm,  brother mpep, brother omi, brother basyir, brother subh, brother Adn, brother zurr, dan aku sendiri suropati, atau cukup suro saja.
Kebetulan dari keluarga yang besar itu saya ini didapuk jadi leadernya bersama brother zurr. Eh … nanti dulu, biar saya jelaskan dulu. Didapuknya saya jadi leader keluarga itu bukan karena saya ini paling pinter, paling ngerti, paling paham alias expert begitu. Ning karena saya ini yang paling betah di sini … ha iyo kok wong seangkatan saya sudah pada minggat semua itu ke negeri seberang. Seberang ning jauh.... he....he..he.
Ha kok pada minggat itu kenapa he ?
Lho jangan ditanya alasan-alasannya kok, alasan itu ada yang subjektif dan ada yang obyektif. Nah alasan yang obyektif itu, mungkin saya rasai juga. Ning kan ndak etis kalo musti saya tulis juga. Wong biar bagimana “goat family” kami itu masih punya induk keluarga yang lebih besar je. Biar sejelek apa pun ya harus dilindungi, dibela, disokong, ...wong keluarga je.
Sehubungan dengan prestasi saya menjadi yang paling betah itu … didapuk-lah saya jadi leader dari keluarga 'Goat Family'. Apa ora hebat ….!!!

Si bungsu adalah brother ind, brother erbe dan brother fahm.  Nek pengen tahu takaran sample menyemple, kapan timing yang pas, yang mak nyus buat diambil. Tanyalah pada mereka bertiga ini yang sudah mendapatkan certifikat expert di dunia persampel-an.
Personel berikutnya brother mpep dan brother omi. Kakak-nya para bungsu itu.Wong kami itu bersepuluh kakak beradik semua-nya je. Dua orang anggota keluarga kami yang ini perawakannya jangkung-jangkung semua. Terakhir kali saat mau menutup valve exchanger saja, saya yang harus jinjit-jinjit, neng terus diganti sama brother-brother-ku itu, apa tidak peka sesama sodara itu namanya. Goat Family...je....
Sedikit perlu ditambahkan tentang si brother mpep itu, kok rasanya brother-ku yang ini agak nyentrik, hawong kadang-kadang mukanya itu penuh senyum klecam-klecem begitu...terus kadang-kadang brother-ku yang lain itu malah jadi tertawa kalau melihat kleceman-nya itu. Wuih ….senyum-mu merobek hatiku …. peace brother...:).
….
Di teve itu kadang-kadang kan kita lihat tom and njerry. Yang keliatannya gelut melulu, ning sebenarnya hatinya akur. Pas banget tom and njerry itu buat menggambarkan brother omi dan brother basyir. Tak pernah sunyi keluarga kami dari kemesraan mereka berdua.
Nek brother Adn, selain suka mendownload pelm-pelm, dia yang juga agak nyentrik ini kok ya paling klop sama brother mpep. Ha piye wong satu team ngisi master batch je. Mode sisirannya yang belah pinggir, dengan rambutnya yang sedikit berombak...eh itu mbak-mbak hati-hati dengan rayuan mautnya. ...he...he..he.
Brother Subh, anteng-anteng saja. Pokoknya tidak neko-neko. Paling-paling kena implikasi dari yang lain-lainnya saja. Dalam suatu system kan juga harus ada yang moderat biar bisa menjaga keseimbangan. Biar tubuhnya agak kecil yang kadang jadi ledekan brother-ku yang lain. Tetep anteng – anteng saja. Wong penjaga keseimbangan je.
Begitu juga dengan brother zurr. Bersama daku diberi tugas me-nge-lead, semua brother-brother-ku itu. Jadi posisi pas-nya jadi patihnya begitu. Kok pangkatnya ndak sama. Hawong prestasi ke-betahan-nya masih menangan saya beberapa bulan. Ha ya karena itu saja tetep saya yang jadi lead-nya.
Maka saya ini yang didapuk jadi yang paling tua. Paling betah je ….! Brother zurr ini badannya agak subur, juga anteng-anteng saja. Sebagai penjaga keseimbangan keluarga. Ning kalo bekerja teliti, sregep, rajin, pokok-e pas jadi bapak rumah tangga.
Terus yang tersisa tinggal satu lagi, yaitu saya sendiri. Mereka menyebut-ku mas suro. Wes cukup begitku saja kalau mau tahu diriku ya tanya saja sama brother-brohterku. Biar ngobyektif kok.

Bagaimana kami tidak bersyukur coba. Kami dapat keluarga yang rukun, gayeng, guyub...weh kurang apa. Wong nama keluarga-nya saja sudah keren begitu. “Goat Family” je...ojo lali. Maka ayo bareng-bareng ngucap syukur.
Alhamdulillah 'ala kulli hal.
Wes begitu saja dulu …. nanti kalau kepanjangan rak jadi pada bosan …. biar kayak sketsa-sketsa, atau essay – essay di kedaulatan rakyat, atau di radar banten itu lho, yang ada tiap pekannya.

Jum'at, 18 Mei 2012
GSI, Blok B.5, No.10
Surapati.


Minggu, 13 Mei 2012

Ada cinta di Doli.. Doli ... Doli ...


Daging – daging itu berjajar dengan setengah telanjang. Paha yang putih dan mulus-mulus itu, sengaja ditawarkan pada tuan-tuan yang beruang.
Si tuan yang beruang itu boleh memilih jajaran daging itu untuk dipeluk dan diciumi semau-maunya. Hanya mereka yang beruang yang boleh datang, mereka yang juga hilang iman.
Kawan.... ! Dahulu pemandangan itu kita saksikan di Doli. Sebuah kawasan disamping tempat lahir Anneleis. Siapa bilang itu Surabaya punya ? Pemandangan serupa kurasa ada si setiap sudut kota. Tak hanya sekarang ada, maksudku zaman ini saja. Sudah sejak embah-embah-nya nenek moyang pun mengenalnya.
Banyak sekali orang memaknai kosa kata cinta. Justeru inilah yang memberikan makna cinta itu secara riil. Kau tahu maksudku kan ? Yaitu bertemu-nya daging dengan daging, untuk bisa saling memeluk dan mencium-i. Yang lebih kasar lagi boleh dikata hanya berkisar bagaimana sperma bisa keluar dari liangnya.
Itulah ***Cinta***. Meski...
Orang boleh mengartikannya dengan berpuluh atau bahkan beratus makna lagi. Mereka boleh memaknai, mereka punya hak untuk memaknai. Bagi-ku sendiri kurasa itulah makna ri'il dari cinta. Yang selalu memabuk-kan, demi bisa saling bertatap dengan daging yang bisa diciumi dan dipeluk itu.
Alasan itu tinggal dibuat saja untuk menutupi sebuah kepentingan, cinta suci, cinta tulus, cinta sejati, … alasan tinggal dibuat saja, dan alasan itu ada sekian juta yang bisa dijadikan tunggangan. Demi tercapai daging dengan daging yang bisa bertemu untuk saling berpeluk dan saling cium itu.
…..
Mengapa mereka hendak kau kutuki ? Mereka yang menjajarkan daging-nya (*yang mempesonakan itu... ) di tempat sebagai Doli , juga di tempat-tempat lain di seluruh sudut buana ini.
Beruntunglah mereka yang masih diberikan iman, beruntunglah mereka yang masih diberi keteguhan hati untuk menggigit erat aturan-aturan Tuhan. Tidak semua hati diberi cahaya,....
Alangkah kasihan hati yang tak diberi cahaya itu ….
Begitu saja …. roda perjalanan sang kala yang terus berputar, tak menyisakan apa-apa selain keberuntungan dan penyesalan.
….
O...cinta... cinta yang selalu memabuk-kan itu. Jangan tanya tentang kecerdasan setan dan iblis. Iblis yang juga menunggangi cinta, untuk mencapai tujuan-tujuannya. Cinta bisa menjerumuskan hamba pada jurang-jurang neraka, cinta bisa mengatarkan pada kenikmatan surga yang tak terjamah oleh akal sebelumnya. Hati mana bisa tahan bila diserang cinta ….

Betapa cintanya aku pada . . . . . , Aku mengharap untuk bisa berpeluk, bercium dan bercumbu rayu dengan . . . . . ,
Walau seribu kesusahan hati aku temui, itu tiada mengapa karena aku mabuk oleh cinta kepadanya. Untuk ini aku berterima kasih …..
Alhamdulillahi 'ala kulli hal...
Alhamdulillahi aladzi bini'matihi tatimmu ash shalihaah....


Senin, 14 Mei 2012
GSI, Blok B.5, No. 10
Surapati

Rabu, 09 Mei 2012

Keinginan yang maha kuasa....


Alang-alang bergoyang-goyang di sebelah utara got. Secara berjajar disepanjang got itu ada jembatan beton berselang-seling. Di tempat itulah aku terduduk memandang ke arah barat. Di ujung pemandanganku itu tepat pada pertemuan antara laut dengan langit yang membentuk garis lurus.
Matari sore kian meredup sirarnya, dinding langit kehilangan warna birunya tersapu gumpalan awan yang bertumpang tindih.
Dunia yang luas pun kehilangan terangnya, bala tentara malam perlahan turun menyelimuti sang buana.
Masih dari arah pandangku itu kawan, hendak kuceritakan beberapa hal lagi. Tentang riak-riak putih yang beralur-alur, kapal-kapal yang terapung, juga tentang gerakan si air yang tak jemu terus membantingkan diri ke daratan. Semua itu hal yang sudah biasa, pemandangan sore hari di selat sunda.
****
Udara tempatku bekerja kian sumpek terasa. Kurasa intrik-intrik manusia mulai menggeliat juga. Keinginan kawan …. keinginan yang menjajah pikiran, lambat laun merusak-kan area kemanusia-an, merusak-kan kehamba-an manusia yang mengaku berTuhan.
Hal yang juga sudah biasa terjadi di buana yang luas ini. Buana manusia.
Yang selalu menuntut dipenuhinya keinginan demi keinginan yang tiada berwatas itu. Jangankan kawan, apalagi arti seorang kawan ? Kalau perlu biarlah ia dibuang sejauh-jauhnya. Ke dalam got di bawahku ini mungkin.
Tak penting lagi soal halal dan haram. Apa pula hak Tuhan melarang -larang dengan sebuah kata haram itu. Hanya orang pedalaman yang berikat-kan kekolotan yang mengagung-agungkannya.
Yang penting itu adalah terpenuhinya keinginan-keinginan. Inilah yang berlaku di dunia modern. Aturan main yang lebih relistis.
Oh... Keinginan yang maha kuasa.
****
Mengembara-lah si hati dan pikiran ini pada sebuah lahan, dengan tanaman-nya yang hijau – hijau itu. Pada musim penghujan gelombang daun pada mendayu-dayu tertiup sang bayu. Bertani …. !
Hanya itu yang didiidamkan hati …. Bertani di tanah-ku sendiri.

Kamis, 10 April 2012
GSI Blok B.5, No. 10
Surapati