Dewi-ku …teratai-ku…jantung hatiku…
Aku hendak bercerita, kau dengarkanlah. Dahulu kala sebelum Shakespeare menuliskan romeo dan Juliet yang memilkukan hati itu, terteralah sebuah nama dengan wajahnya yang cantik, rambutnya hitam berombak. Karena hitam rambutnya ini orang menamai gadis cantik itu “Laila”. Seorang pemuda jatuh cinta kepadanya, hingga ia menjadi seperti orang gila, dinamai-lah ia “Majnun”.
Di depanku ada seorang Laila di jaman yang lain, tapi tak ada Majnun yang hampir gila yang ada hanya aku.
Oh … Laila-ku….
Pada zaman Kertanegara hiduplah seorang mpu terkemuka di Kediri. Mpu itu bernama Parwa. Anaknya cantik menawan menggemparkan Kediri. Tunggul Ametung datang menculiknya untuk dijadikan prameswari. Seorang pemuda dengan segala kecerdikannya menumbangkan kekuasaan Tunggul Ametung, dan merebut gadis cantik menawan itu.
Si Dedes gadis cantik jelita anak mpu Parwa berpindah tangan menjadi prameswari dari Ken Arok.
Tapi di sini ada gadis secantik Dedes. Tak ada Tunggul Ametung, tak ada Arok. Hanya ada aku seorang.
Oh…Dedes-ku….
Bah….Surapati pandai merayu….!
…….
Badanku gemetar ……!
Mampukah hati ini mengatakan …
“Mbak…become my bride …please…!”
Manusia itu tak ada yang mau keluar dari lingkaran keamanan dan kenyamanannya. Freud men-teorikan itu dengan panjang lebar. Seorang lelaki ingin punya istri secantik Laila, semanis Dedes, Seanggun Woro Sembodro. Begitu sebaliknya si mbak ingin punya suami secakep Raden Mas Arjuna, segantheng Lesmana, sebijak Gunawan Wibisono.
Maka orang pun berpacaran untuk memastikan istrinya secantik sembodro, suaminya segantheng Arjuno. Bagi yang berpacar-pacaran itu layak-lah rayu cumbu sebagai daku tulis di atas. Hadits telah kau bacai, kau bisa menilai sendiri perihal hukum syar’i tentang pacaran. Aku tak hendak campur tangan urusanmu kawan. Setiap orang punya pengalaman hidupnya masing-masing.
Kembali badanku gemetar…!
Bagaimana jika yang akan kutemui seorang wanita yang seperti limbuk. Memang kenapa ? Bukankah Suropati ini lebih mirip petruk ? Bukankah limbuk itu yang paling pantes buat si petruk ?
Ya Rahman hendak kau kemanakan daku ?
Kemana pun itu terserahlah kepadaMu…asal Kau tidak marah kepadaku, asal Kau ridho kepadaku.
Malam ini ingin aku hafalkan sebuah kalimat. Seperti para Amtenaar jaman belanda yang menghafalkan kalimat pidatonya yang berbahasa belanda di depan para atasannya.
“Become my bride …please…! “
“Become my bride …please…!”
Ah … Surapati lupa akan beberapa pengalamannya sebelum ini. Ingat itu Surapati pun bersiap menghadasi situasi terburuk. Mudah-mudahan tidak kaget. Nek seorang Sembodro menolak si Petruk, lha bukannya itu wajar. Kemungkinan itu harus diterima olehku dengna selapangnya hati.
Hatiku gemetar lagi…
Ingin kufahalkan kalimat itu ….
“Become my bride …please…! “
Bunda merestui-ku….
“Become my bride …please…!
“Become my bride…
Terlintas di pikiranku tentang limbukan yang ditulis Kuntowijoyo, tapi badanku gemetar …. Pikiranku kacau….
“Mbak…become my bride …please…! “
Sabtu, 02 Juni 2012
Jl. Jogya – Solo, Prambanan , Klaten, Jawa Tengah
Surapati
Aku hendak bercerita, kau dengarkanlah. Dahulu kala sebelum Shakespeare menuliskan romeo dan Juliet yang memilkukan hati itu, terteralah sebuah nama dengan wajahnya yang cantik, rambutnya hitam berombak. Karena hitam rambutnya ini orang menamai gadis cantik itu “Laila”. Seorang pemuda jatuh cinta kepadanya, hingga ia menjadi seperti orang gila, dinamai-lah ia “Majnun”.
Di depanku ada seorang Laila di jaman yang lain, tapi tak ada Majnun yang hampir gila yang ada hanya aku.
Oh … Laila-ku….
Pada zaman Kertanegara hiduplah seorang mpu terkemuka di Kediri. Mpu itu bernama Parwa. Anaknya cantik menawan menggemparkan Kediri. Tunggul Ametung datang menculiknya untuk dijadikan prameswari. Seorang pemuda dengan segala kecerdikannya menumbangkan kekuasaan Tunggul Ametung, dan merebut gadis cantik menawan itu.
Si Dedes gadis cantik jelita anak mpu Parwa berpindah tangan menjadi prameswari dari Ken Arok.
Tapi di sini ada gadis secantik Dedes. Tak ada Tunggul Ametung, tak ada Arok. Hanya ada aku seorang.
Oh…Dedes-ku….
Bah….Surapati pandai merayu….!
…….
Badanku gemetar ……!
Mampukah hati ini mengatakan …
“Mbak…become my bride …please…!”
Manusia itu tak ada yang mau keluar dari lingkaran keamanan dan kenyamanannya. Freud men-teorikan itu dengan panjang lebar. Seorang lelaki ingin punya istri secantik Laila, semanis Dedes, Seanggun Woro Sembodro. Begitu sebaliknya si mbak ingin punya suami secakep Raden Mas Arjuna, segantheng Lesmana, sebijak Gunawan Wibisono.
Maka orang pun berpacaran untuk memastikan istrinya secantik sembodro, suaminya segantheng Arjuno. Bagi yang berpacar-pacaran itu layak-lah rayu cumbu sebagai daku tulis di atas. Hadits telah kau bacai, kau bisa menilai sendiri perihal hukum syar’i tentang pacaran. Aku tak hendak campur tangan urusanmu kawan. Setiap orang punya pengalaman hidupnya masing-masing.
Kembali badanku gemetar…!
Bagaimana jika yang akan kutemui seorang wanita yang seperti limbuk. Memang kenapa ? Bukankah Suropati ini lebih mirip petruk ? Bukankah limbuk itu yang paling pantes buat si petruk ?
Ya Rahman hendak kau kemanakan daku ?
Kemana pun itu terserahlah kepadaMu…asal Kau tidak marah kepadaku, asal Kau ridho kepadaku.
Malam ini ingin aku hafalkan sebuah kalimat. Seperti para Amtenaar jaman belanda yang menghafalkan kalimat pidatonya yang berbahasa belanda di depan para atasannya.
“Become my bride …please…! “
“Become my bride …please…!”
Ah … Surapati lupa akan beberapa pengalamannya sebelum ini. Ingat itu Surapati pun bersiap menghadasi situasi terburuk. Mudah-mudahan tidak kaget. Nek seorang Sembodro menolak si Petruk, lha bukannya itu wajar. Kemungkinan itu harus diterima olehku dengna selapangnya hati.
Hatiku gemetar lagi…
Ingin kufahalkan kalimat itu ….
“Become my bride …please…! “
Bunda merestui-ku….
“Become my bride …please…!
“Become my bride…
Terlintas di pikiranku tentang limbukan yang ditulis Kuntowijoyo, tapi badanku gemetar …. Pikiranku kacau….
“Mbak…become my bride …please…! “
Sabtu, 02 Juni 2012
Jl. Jogya – Solo, Prambanan , Klaten, Jawa Tengah
Surapati


